Teknologi Penerjemah Bahasa: Memudahkan Komunikasi Global
Pendahuluan
Dalam era globalisasi saat ini, kemampuan untuk berkomunikasi dalam berbagai bahasa menjadi semakin penting. Teknologi penerjemah bahasa telah berkembang pesat dan memainkan peran kunci dalam memfasilitasi komunikasi antarbudaya. Artikel ini akan membahas berbagai aspek teknologi penerjemah bahasa, termasuk jenis-jenisnya, cara kerjanya, serta kelebihan dan kekurangannya.
Mesin terjemahan sendiri bukanlah teknologi baru. Proyek pengembangan
pertamanya tercatat pada tahun 1954 dan sejak itu terus dimutakhirkan.
Beberapa temuan signifikan dalam riwayat pengembangan mesin terjemahan
adalah rule-based machine translation, statistical machine translation, hybrid machine translation, dan neural machine translation.
Tiap-tiap produk teknologi tersebut mencoba berbagai pendekatan dan
bahkan mengombinasikannya untuk menghasilkan terjemahan mesin yang
diharapkan.
Inovasi mesin terjemahan termutakhir, neural machine translation, mulai merangkul kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dengan kemampuan pembelajaran mesin.
Jenis-Jenis Teknologi Penerjemah Bahasa
Penerjemah Mesin (Machine Translation)
- Contoh: Google Translate, DeepL.
- Menggunakan algoritma dan pembelajaran mesin untuk menerjemahkan teks secara otomatis. Penerjemah mesin sering digunakan untuk menerjemahkan dokumen, situs web, dan konten digital lainnya.
Aplikasi Penerjemah Berbasis Suara
- Contoh: Microsoft Translator, iTranslate.
- Memungkinkan pengguna untuk berbicara dalam satu bahasa dan mendapatkan terjemahan secara langsung dalam bahasa lain. Aplikasi ini sangat berguna dalam situasi percakapan langsung.
Penerjemah Berbasis AI
- Contoh: ChatGPT, Google Bard.
- Menggunakan kecerdasan buatan untuk memberikan terjemahan yang lebih akurat dan kontekstual, sering kali dengan kemampuan memahami nuansa bahasa.
Penerjemah Manusia
- Meskipun tidak termasuk dalam kategori teknologi otomatis, penerjemah manusia masih sangat penting untuk konteks yang lebih kompleks, seperti dokumen hukum, sastra, dan konteks budaya.
Peran Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Mesin Terjemahan
AI adalah masa depan yang sukar ditolak. Walau kini masih diliputi
pro dan kontra, AI menjadi salah satu elemen yang merevolusi peradaban
manusia.
Pasar perangkat lunak AI kini berkembang makin kuat.[1]
Pada 2023, tercatat pasar kecerdasan buatan global bernilai 150,2
miliar dolar AS. Ke depan, hingga 2030, pasar AI diperkirakan akan
mengalami pertumbuhan tahunan (CAGR/Compouded Annual Growth Rate) sebesar 36,8%.
Bersama gencarnya pertumbuhan ini, sektor yang dimasuki AI pun makin
luas, termasuk industri terjemahan. Kecerdasan buatan tak hanya
berkembang cepat, ia juga merevolusi industri terjemahan.
Pengembangan AI dalam industri terjemahan ini amat beralasan karena
AI membuat kerja-kerja penerjemahan jadi lebih efektif dan praktis.
Kepraktisan ini adalah hal yang amat menggiurkan. Ketika pekerjaan
penerjemahan bisa dilakukan lebih cepat dan lebih hemat, maka
pengembangan mesin terjemahan berbasis AI ini akan mampu memberikan
keutungan finansial sangat besar pada perusahaan-perusahaan yang
mengembangkan perangkat lunak mesin terjemahan.
Mesin terjemahan yang digerakkan oleh AI menggunakan algoritma
tingkat lanjut untuk menganalisis teks atau suara dan menghasilkan
terjemahan secara real-time.[2]
Perangkat lunak AI ini menganalisis teks sumber dan memecahnya menjadi
komponen yang lebih kecil, seperti kata dan frasa. Kemudian, AI
menggunakan algoritma pembelajaran mesin untuk mengidentifikasi
terjemahan yang paling tepat untuk setiap komponen tersebut.[3]
Mesin Terjemahan : Kelebihan dan Batasan
Mesin terjemahan bukanlah peranti eksklusif industri terjemahan. Kini
ia dapat diakses dengan mudah oleh semua pengguna internet dan tersedia
gratis. Salah satu mesin terjemahan yang amat terkenal adalah Google
Translate. Dengan Google Translate, setiap orang tinggal memasukkan
kata-kata, teks atau dokumen dari bahasa sumber, lalu secara otomatis
masukan itu akan diterjemahkan ke dalam bahasa yang dituju atau bahasa
target.
Selain Google Translate, ada berbagai mesin terjemahan yang
dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan pengembang perangkat lunak AI,
baik yang gratis maupun berbayar. Mesin terjemahan lain yang tersedia
gratis di antaranya Bing Microsoft Translator, DeepL, dan Reverso.
Sementara yang berbayar umumnya terintegrasi dengan translation management system (TMS) atau juga Computer-Aided Translation (CAT) Tool, misalnya memoQ Translator PRO, SYSTRAN Translate PRO, Smartling, Crowdin, TextUnited, Amazon Translate, dan Memsource.[4]
Mesin terjemahan berbasis AI memberikan banyak kelebihan, di antaranya sebagai berikut.
Penggunaan mesin terjemahan akan memangkas banyak waktu untuk
menerjemahkan. Mesin dapat memproses dokumen volume besar dalam waktu
singkat.
Tarif penerjemah manusia profesional adalah salah satu komponen biaya
penerjemahan yang cukup besar proporsinya. Saat menggunakan mesin,
biaya ini dapat dipangkas. Jika diperlukan peningkatan kualitas draf
oleh penerjemah manusia, tarifnya pun umumnya lebih rendah daripada
tarif terjemahan penuh.
Karena proses terjemahan dilakukan tanpa perantara manusia, maka
berbagai teks yang hanya boleh beredar di kalangan terbatas bisa
diterjemahkan secara mandiri.
- Mampu menjembatani komunikasi sederhana
Saat traveling untuk wisata, atau bertukar kabar dengan
sahabat pena dari negara lain, batasan bahasa untuk komunikasi sederhana
umumnya bisa ditembus oleh mesin terjemahan.
Sementara itu, ada sejumlah batasan yang sering dihadapi para pengguna mesin terjemahan. Berikut beberapa di antaranya.
Mesin terjemahan digerakkan oleh model statistika yang dilatih dengan
bekal korpus data bervolume raksasa. Model ini mungkin saja membuat
kesalahan dan luput mengenali konteks yang penting. Akibatnya,
terjemahan tidak selalu akurat. Selain itu, jika jenis atau topik
dokumen yang diterjemahkan tidak terlalu populer, mesin mungkin
kesulitan mencocokkan hasil yang sesuai karena kurangnya korpus data
terkait.
Karakteristik yang menonjol dari terjemahan mesin adalah terasa
mekanis. Itulah sebabnya, pada teks dengan visibilitas tinggi (misalnya
untuk dirilis ke publik), terjemahan mesin umumnya tetap dipoles oleh
penerjemah manusia. Penerjemah manusia dianggap punya rasa bahasa yang
lebih baik sebagai penutur.
Bahasa terkait erat dengan budaya penutur dan tempat bahasa itu
hidup. Mesin terjemahan punya keterbatasan dalam mengenali nuansa makna
terkait budaya tertentu yang menempel pada kata-kata. Akibatnya, mesin
terjemahan mungkin kurang mampu mentransfer unsur budaya tersebut ke
dalam bahasa sasaran.
Bahasa hidup dan senantiasa berkembang seiring waktu. Kata-kata baru
tumbuh, makna dan penggunaannya juga bisa jadi berubah. Mesin terjemahan
sering kali kesulitan mengikuti transformasi bahasa yang sangat dinamis
ini. Konsekuensinya, terjemahan mesin bisa jadi terasa jauh berbeda
dari bahasa yang digunakan penutur di masa kini.
Apakah Penerjemah Bisa Tergantikan Mesin Terjemahan?
Ada satu pertanyaan yang mungkin menggelitik banyak praktisi penerjemahan: apakah mesin terjemahan bisa menggantikan manusia? Kekhawatiran
ini wajar. Melihat perkembangannya yang sangat pesat, AI bisa saja,
hingga titik tertentu, menggusur pekerjaan manusia.
Meski demikian, perlu disadari bahwa AI diciptakan manusia,
sejatinya, untuk membuat hidup lebih mudah, dan harapannya, lebih
menyenangkan.
Dan dalam konteks industri terjemahan, kemampuan mesin terjemahan
bertenaga AI belum sepenuhnya mampu memenuhi standar kualitas. Beberapa
mesin terjemahan bahkan tidak berfungsi terlalu baik untuk beberapa
kombinasi bahasa.[5]
Terutama yang melibatkan bahasa dengan gramatika yang relatif kompleks
dan memiliki struktur yang berbeda jauh satu sama lain. Itulah sebabnya,
mesin terjemahan hingga kini diposisikan sebagai alat bantu penunjang
efisiensi yang akan tetap dipasangkan dengan kerja manusia untuk memoles
hasilnya.
Kesadaran akan konteks dan dinamika bahasa masih jadi nilai unggul
manusia dibanding mesin. Syaratnya, penerjemah manusia harus terus
mengisi lumbung pengetahuannya dengan praktik berbahasa terkini. Selain
itu, untuk memanfaatkan mesin, penerjemah manusia perlu punya fondasi
keterampilan penerjemahan yang memadai. Dengan fondasi inilah penerjemah
manusia dapat menilai kesesuaian hasil terjemahan mesin dengan
ekspektasi mutu, serta melakukan penyesuaian yang diperlukan. Tanpa
keterampilan ini, penggunaan mesin terjemahan mungkin malah berpotensi
jadi kontraproduktif.
Kesimpulan
Teknologi penerjemah bahasa telah membawa dampak signifikan dalam memfasilitasi komunikasi global. Meskipun terdapat kelebihan dan kekurangan, peran teknologi ini tidak dapat diabaikan dalam dunia yang semakin saling terhubung. Di masa depan, diharapkan teknologi penerjemah akan terus berkembang, menawarkan solusi yang lebih baik dan lebih akurat untuk berbagai kebutuhan komunikasi.
Sumber Referensi :
https://translexi.id/teknologi-penerjemahan-inovasi-terkini-dalam-industri/